Lapas Kelas IIA Garut Gelar Seleksi Tim Zona Integritas, Perkuat Komitmen Menuju WBK/WBBM

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut terus menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan berorientasi pada pelayanan publik. Salah satu langkah konkret tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Seleksi Tim Zona Integritas (ZI) menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) yang digelar pada Senin, 26 Januari 2026, bertempat di Aula Lapas Garut.

Kegiatan seleksi ini dibuka secara resmi oleh Kepala Lapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, dan diikuti oleh para pegawai yang telah mendaftarkan diri sebagai calon anggota Tim Zona Integritas. Proses seleksi turut disaksikan oleh jajaran pejabat struktural Lapas Garut sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas dalam pembentukan tim strategis tersebut.

Dalam sambutannya, Kalapas Garut Rusdedy menegaskan bahwa pembangunan Zona Integritas bukan sekadar upaya administratif untuk mengejar predikat WBK/WBBM, melainkan merupakan proses perubahan menyeluruh dalam budaya kerja aparatur pemasyarakatan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan Zona Integritas sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya.

“Predikat WBK dan WBBM bukan tujuan akhir. Yang paling utama adalah bagaimana kita menjalani proses perubahan itu secara konsisten dan berkelanjutan. Semua harus dimulai dari kesiapan SDM yang memiliki integritas, profesionalisme, dan komitmen kuat terhadap pelayanan publik,” ujar Rusdedy.

Ia juga menekankan bahwa Tim Zona Integritas memiliki peran strategis sebagai motor penggerak perubahan di lingkungan Lapas Garut. Oleh karena itu, proses seleksi dilakukan secara objektif dan terukur guna memastikan bahwa personel yang terpilih benar-benar memahami nilai-nilai integritas serta mampu mengimplementasikannya dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

Seleksi Tim Zona Integritas ini dilaksanakan melalui dua tahapan utama, yaitu tes pengetahuan umum terkait WBK/WBBM dan tes wawancara. Tes pengetahuan bertujuan untuk mengukur pemahaman peserta terhadap konsep, prinsip, serta indikator pembangunan Zona Integritas, termasuk enam area perubahan yang menjadi fokus utama dalam penilaian WBK/WBBM.

Sementara itu, tahapan wawancara digunakan untuk menggali lebih dalam terkait integritas pribadi, komitmen, sikap, serta kesiapan peserta dalam menjalankan peran sebagai agen perubahan di lingkungan Lapas Garut. Dalam sesi ini, peserta juga diminta menyampaikan pandangan serta gagasan terkait upaya pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan publik.

Rusdedy berharap, melalui proses seleksi yang ketat dan transparan ini, Lapas Garut dapat membentuk Tim Zona Integritas yang solid, berintegritas tinggi, serta memiliki semangat kolaboratif dalam mengawal seluruh tahapan pembangunan Zona Integritas. Ia menambahkan bahwa keberhasilan meraih predikat WBK/WBBM harus didukung oleh kerja bersama seluruh jajaran, bukan hanya tim tertentu.

“Tim Zona Integritas adalah penggerak, tetapi keberhasilannya tetap membutuhkan dukungan dan komitmen seluruh pegawai. Dengan kebersamaan dan konsistensi, saya optimistis Lapas Garut mampu mewujudkan birokrasi yang bersih, melayani, dan bebas dari praktik korupsi,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, Lapas Kelas IIA Garut menegaskan keseriusannya dalam mendukung program reformasi birokrasi yang dicanangkan pemerintah, khususnya di lingkungan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan. Ke depan, Tim Zona Integritas yang terbentuk diharapkan mampu menjadi teladan serta agen perubahan dalam mewujudkan pelayanan pemasyarakatan yang profesional, humanis, dan berintegritas. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *