Banjir Luapan Citarum Tewaskan Seorang Pemuda di Kedungwaringin, Akses Warga Terisolasi

Loading

Bekasi,TRIBUNPRIBUMI.com – Musibah banjir akibat luapan Sungai Citarum dan anak sungai Cibeet kembali menelan korban jiwa di Kabupaten Bekasi. Seorang pemuda bernama Ajo (20) bin Ipin, warga Kampung Nanggewer RT 02/02, Desa Labansari, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat ditemukan meninggal dunia setelah tenggelam di genangan banjir, Senin (19/01/2026). Korban diduga tidak mampu menyelamatkan diri karena penyakit epilepsi yang dideritanya kambuh saat berada di lokasi banjir.

Peristiwa tragis tersebut terjadi di Lapangan Bola Kampung Bojong, Desa Bojongsari, Kecamatan Kedungwaringin. Lokasi ini berada tepat di perbatasan antara Desa Labansari dan Desa Bojongsari, serta menjadi satu-satunya akses keluar masuk Kampung Nanggewer. Saat banjir melanda, kawasan ini berubah menjadi titik rawan dengan arus air yang deras dan sulit dilalui.

Kronologi Kejadian

Menurut keterangan warga sekitar, banjir mulai meninggi sejak pagi hari akibat luapan Sungai Citarum yang diperparah oleh aliran anak sungai Cibeet. Lapangan bola yang biasanya digunakan warga untuk beraktivitas sehari-hari berubah menjadi hamparan genangan air dengan arus cukup kuat.

Saat kejadian, banyak warga Kampung Nanggewer yang berusaha keluar dari wilayah kampung untuk mengungsi atau sekadar mencari kebutuhan logistik. Korban diketahui berada di sekitar lapangan bola tersebut. Diduga kuat, ketika berada di tengah genangan banjir, penyakit epilepsi (ayan) yang selama ini dideritanya tiba-tiba kambuh. Kondisi tersebut membuat korban kehilangan kendali, sehingga tidak mampu berenang atau meminta pertolongan, hingga akhirnya tenggelam.

Warga yang mengetahui kejadian tersebut sempat berupaya memberikan pertolongan. Namun derasnya arus air dan kondisi banjir yang cukup berbahaya menyulitkan proses penyelamatan. Korban akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.

Akses Kampung Terisolasi

Banjir yang merendam Lapangan Bola Kampung Bojong menyebabkan Kampung Nanggewer nyaris terisolasi. Jalur tersebut selama ini menjadi akses vital bagi warga untuk beraktivitas, termasuk menuju fasilitas kesehatan, sekolah, maupun pusat perekonomian.

“Kalau banjir seperti ini, lapangan bola itu satu-satunya jalan. Tapi arusnya sangat deras karena luapan sungai, jadi sangat berbahaya,” ujar salah seorang warga setempat.

Kondisi ini membuat warga harus ekstra hati-hati, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki riwayat penyakit tertentu. Pemerintah desa bersama relawan dan petugas evakuasi telah menyiagakan perahu karet untuk membantu mobilitas dan evakuasi warga terdampak.

Himbauan Kepala Desa

Menanggapi musibah yang menewaskan salah satu warganya, Kepala Desa Labansari, H. Amak Gozali, menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban. Ia juga mengeluarkan imbauan keras agar warga tidak sembarangan melintasi area banjir.

“Kami sangat berduka atas musibah ini. Saya menghimbau kepada seluruh warga agar tidak bolak-balik melintasi genangan banjir sendirian tanpa pendampingan. Gunakan perahu karet yang tersedia dan jangan menyeberang tanpa pengawasan, terutama bagi anak-anak serta warga yang memiliki riwayat penyakit,” tegas H. Amak Gozali.

Ia juga meminta warga Kampung Nanggewer untuk selalu berkoordinasi dengan petugas evakuasi di lapangan apabila hendak keluar masuk wilayah kampung. Langkah ini dinilai penting guna meminimalisir risiko kecelakaan dan mencegah jatuhnya korban jiwa tambahan.

Upaya Antisipasi

Pihak desa bersama aparat terkait terus memantau perkembangan banjir dan melakukan langkah-langkah antisipasi, termasuk pendataan warga terdampak, penyediaan perahu karet, serta koordinasi dengan relawan dan petugas kebencanaan. Warga juga diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat curah hujan masih cukup tinggi.

Musibah ini menjadi pengingat bahwa banjir bukan hanya berdampak pada kerugian materi, tetapi juga dapat merenggut nyawa. Diharapkan seluruh pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, dapat meningkatkan kewaspadaan dan kepatuhan terhadap imbauan keselamatan demi menghindari kejadian serupa di masa mendatang.

(Mardani Lubis/Abie fu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *