![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Waktu boleh berjalan maju, bangunan boleh menua, dan hiruk-pikuk boleh mereda. Namun bagi Moch Sobur (59), ingatan tentang Stasiun Leles pada awal 1980-an tetap hidup, seolah tak pernah ditinggalkan zaman. Di sanalah ia pernah menghabiskan masa mudanya, menjemput rezeki sebagai sopir colt butut, angkutan sederhana yang dahulu menjadi denyut nadi transportasi masyarakat pedesaan di Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Di kediamannya yang sederhana, Moch Sobur bercerita dengan nada pelan namun penuh emosi. Tatapannya sesekali menerawang, seakan rel-rel besi dan gerbong kereta kembali melintas di benaknya. Baginya, Stasiun Leles bukan sekadar tempat naik-turun penumpang, melainkan pusat kehidupan, tempat harapan dan perjuangan orang kecil bertemu setiap hari.
“Kalau orang sekarang lihat Stasiun Leles mungkin biasa saja. Tapi dulu, itu pusat segalanya. Ramai dari pagi sampai sore, tidak pernah benar-benar sepi,” ujarnya mengenang, saat di wawancarai awak media pada. Sabtu, (17/01/2026).
Stasiun sebagai Simpul Kehidupan
Pada era 1980-an, Stasiun Leles menjadi salah satu simpul penting pergerakan manusia dan barang di wilayah timur Kabupaten Garut. Kereta api bukan hanya alat transportasi, melainkan urat nadi ekonomi. Pedagang, petani, buruh angkut, penumpang, hingga sopir angkutan desa berbaur tanpa sekat.
Sobur masih ingat betul suasana ngetem colt butut di sekitar stasiun. Kendaraan bermesin keras dengan bodi kotak itu berjejer menunggu penumpang yang baru turun dari kereta.
“Saya ngetem tidak jauh dari stasiun. Begitu kereta datang, langsung ramai. Orang turun, bawa barang, ada yang langsung teriak nyari colt,” katanya.
Rute yang dilayani colt butut kala itu relatif pendek namun vital: menghubungkan Stasiun Leles dengan kampung-kampung sekitar seperti Limbangan, Cibatu, hingga pelosok desa yang belum terjangkau kendaraan besar.
“Belum ada angkot seperti sekarang. Kalau mau ke kampung, ya naik colt atau superben. Kadang penuh sampai berdiri, tapi orang tetap naik. Namanya juga butuh,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Aroma Asap Kereta dan Nasi Timbel
Yang paling membekas di ingatan Moch Sobur bukan hanya ramainya penumpang, tetapi juga suasana khas yang kini sulit ditemukan. Asap lokomotif bercampur dengan bau kayu bakar, gorengan panas, dan kopi hitam dari warung-warung kecil di sekitar stasiun.
“Kalau kereta datang, baunya itu khas. Asap kereta campur bau nasi timbel, gorengan, kopi. Ramai tapi hangat,” kenangnya.
Di sudut-sudut stasiun, para pedagang kaki lima menjajakan dagangan sederhana. Nasi bungkus daun pisang, singkong rebus, pisang goreng, hingga rokok eceran menjadi pemandangan sehari-hari. Bagi banyak warga, stasiun adalah tempat mencari nafkah sekaligus ruang bersosialisasi.
Tak hanya penumpang, aktivitas bongkar muat hasil bumi juga menjadi rutinitas. Padi, sayuran, kayu, dan berbagai hasil pertanian diangkut menggunakan kereta api untuk didistribusikan ke wilayah lain.
“Kereta itu urat nadi. Barang dari kampung dibawa ke kota, orang dari kota datang ke kampung. Semua lewat situ,” tutur Sobur.
Sopir Colt Butut dan Jalanan yang Tak Bersahabat
Menjadi sopir colt butut di era itu bukan pekerjaan mudah. Jalanan masih banyak yang berbatu dan berlumpur, terutama saat musim hujan. Kendaraan kerap mogok, suku cadang sulit didapat, dan penghasilan tak pernah pasti.
“Tiap hari itu perjuangan. Mesin rewel, jalan jelek, kadang pulang cuma bawa uang pas buat makan,” katanya.
Namun, Sobur menegaskan bahwa semangat bekerja kala itu sangat berbeda. Tidak banyak keluhan, tidak banyak tuntutan. Yang penting bisa menyambung hidup dan menghidupi keluarga.
“Kami mah tidak banyak mikir. Yang penting bisa makan, anak bisa sekolah. Capek iya, tapi dijalani dengan ikhlas,” ucapnya lirih.
Di balik kerasnya pekerjaan, tumbuh solidaritas sesama sopir. Mereka saling membantu jika kendaraan mogok, berbagi penumpang, hingga saling menunggu di pangkalan.
“Kalau ada colt mogok, sopir lain pasti bantu. Sekarang mungkin sudah jarang begitu,” tambahnya.
Zaman Berubah, Keramaian Memudar
Kini, Moch Sobur hanya bisa membandingkan masa lalu dengan kondisi Stasiun Leles hari ini. Hiruk-pikuk yang dulu menjadi denyut kehidupan perlahan memudar. Perubahan pola transportasi, hadirnya kendaraan pribadi, dan bergesernya jalur ekonomi membuat stasiun tak lagi seramai dahulu.
“Sekarang sunyi. Jauh berbeda. Dulu mah kalau kereta datang itu momen besar. Sekarang biasa saja,” ujarnya.
Bagi Sobur, perubahan itu adalah keniscayaan. Namun yang ia khawatirkan adalah hilangnya ingatan kolektif tentang peran besar stasiun dan orang-orang kecil di sekitarnya.
“Saya cuma berharap, sejarah jangan dilupakan. Stasiun Leles itu saksi hidup perjuangan banyak orang, termasuk kami para sopir kecil,” katanya pelan.
Jejak Orang Kecil dalam Sejarah Besar
Kisah Moch Sobur bukan sekadar nostalgia seorang sopir tua. Ia adalah potret kecil dari sejarah sosial dan ekonomi Garut di masa lalu. Di balik rel berkarat dan bangunan stasiun yang menua, tersimpan cerita tentang kerja keras, solidaritas, dan kesederhanaan hidup.
Stasiun Leles, bagi generasi kini, mungkin hanya bangunan transit. Namun bagi Moch Sobur dan sezamannya, ia adalah pusat kehidupan tempat harapan berangkat dan rezeki dijemput setiap hari.
Dan selama kisah-kisah seperti ini masih diceritakan, rel tua itu tak benar-benar sunyi. Ia tetap hidup, setidaknya dalam ingatan mereka yang pernah menggerakkan roda zaman dengan cara sederhana, jujur, dan penuh makna. (*)
