Puluhan Tahun Kembali ke Papandayan, Pengunjung Wien Wintarsih: “Memory yang Takkan Pernah Bisa Dilupakan”

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Papandayan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, kembali menyimpan kisah emosional bagi para pengunjungnya. Salah satunya datang dari Wien Wintarsih (50), pengunjung yang mengaku merasakan pengalaman mendalam dan penuh makna setelah kembali menginjakkan kaki di kawasan wisata alam tersebut usai puluhan tahun lamanya tidak berkunjung.

Bagi Wien, kunjungan ke Papandayan bukan sekadar perjalanan wisata biasa. Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi napak tilas kenangan masa lalu yang berpadu dengan rasa takjub melihat begitu banyak perubahan yang terjadi.

“Ini memory yang takkan pernah bisa dilupakan. Setelah puluhan tahun tidak ke sini, ternyata begitu banyak perubahan yang sangat menakjubkan,” ungkap Wien dengan nada haru, saat di wawancarai awak media melalui sambungan Whatsapp miliknya pada. Senin (12/01/2026).

Sementara saat berkunjung kesana kemarin Minggu,(11/01/2026). Dia menceritakan, terakhir kali berkunjung ke Papandayan adalah pada masa ketika kawasan tersebut masih sangat sederhana. Akses jalan belum sebaik sekarang, fasilitas wisata masih terbatas, dan suasana cenderung sunyi dengan pengunjung yang tidak terlalu ramai. Namun, semua kenangan itu kini terasa kontras dengan kondisi Papandayan saat ini.

“Dulu Papandayan terasa lebih sepi, jalurnya belum tertata seperti sekarang. Sekarang banyak perubahan, tapi perubahan yang menurut saya sangat positif,” katanya.

Perubahan Signifikan, Namun Alam Tetap Terjaga

Wien menilai, perubahan yang terjadi di TWA Gunung Papandayan menunjukkan adanya keseriusan pengelola dalam membenahi kawasan wisata tanpa menghilangkan esensi alamnya. Menurutnya, penataan jalur wisata, peningkatan fasilitas, hingga pengelolaan kawasan yang lebih rapi membuat pengunjung merasa lebih aman dan nyaman.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa keindahan alam Papandayan masih tetap terjaga. Kawah-kawah aktif, hamparan hutan, serta kawasan padang edelweis tetap menjadi daya tarik utama yang memancarkan keindahan alami khas pegunungan Garut.

“Yang membuat saya terkesan, meskipun sekarang lebih tertata, nuansa alamnya tidak hilang. Papandayan masih punya ‘ruh’ yang sama seperti dulu,” ujarnya.

Ia juga menyebut beberapa titik yang menurutnya kini menjadi ikon sekaligus magnet wisata, seperti kawasan kawah, jalur trekking yang lebih aman, hingga area padang edelweis yang tetap dijaga kelestariannya. Menurut Wien, pembatasan dan aturan yang diterapkan pengelola justru menjadi langkah penting untuk melindungi kawasan tersebut dari kerusakan.

Wisata Alam yang Menghadirkan Refleksi Spiritual

Tak hanya soal perubahan fisik, Wien mengaku merasakan pengalaman batin dan spiritual selama berada di kawasan TWA Gunung Papandayan. Baginya, alam Papandayan memberikan ruang refleksi yang mengingatkan manusia akan kebesaran Tuhan dan keterbatasan manusia di hadapan alam semesta.

“Berada di sini membuat saya lebih banyak bersyukur. Alam ini mengajarkan tentang waktu, tentang perubahan, dan tentang bagaimana manusia seharusnya menjaga, bukan merusak,” tuturnya.

Ia bahkan menyebut, perjalanan tersebut terasa seperti perjalanan hati. Setiap langkah di jalur Papandayan membawa ingatan masa lalu, sekaligus kesadaran akan pentingnya menjaga alam sebagai amanah untuk generasi mendatang.

Harapan untuk Pengelolaan Berkelanjutan

Di akhir kunjungannya, Wien berharap TWA Gunung Papandayan terus dikelola secara bijak dan berkelanjutan. Ia menilai, kawasan ini bukan hanya aset wisata Kabupaten Garut, tetapi juga warisan alam yang memiliki nilai ekologis, edukatif, dan spiritual.

“Papandayan ini bukan hanya milik kita hari ini. Ini titipan untuk anak cucu kita nanti. Semoga tetap dijaga, dirawat, dan dikelola dengan hati,” pungkasnya.

Sebagai salah satu destinasi wisata alam unggulan di Jawa Barat, TWA Gunung Papandayan terus menjadi magnet bagi wisatawan lokal maupun luar daerah. 

Di sisi lain,kisah seperti yang dialami Wien Wintarsih menjadi bukti bahwa Papandayan bukan sekadar tempat wisata, melainkan ruang kenangan, refleksi, dan kekaguman yang tak lekang oleh waktu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *