Melawan Lesunya Penjualan, Juju Perajin Rajut Binong Jati Bertahan Hampir 15 Tahun di Tengah Tekanan Ekonomi

Loading

Bandung,TRIBUNPRIBUMI.com – Sentra rajut Binong Jati, Kota Bandung, sejak lama dikenal sebagai salah satu denyut nadi industri kreatif berbasis kerajinan tangan. Di tengah geliat tersebut, Juju (37), perajin rajut asal Gang Kurnia 9 RT 09/RW 03, Kelurahan Binong Jati,Kecamatan Batununggal,Kota Bandung,Jawa Barat menjadi salah satu pelaku usaha yang tetap bertahan meski diterpa berbagai tantangan berat selama hampir 15 tahun terakhir.

Usaha rajut yang dirintis Juju bukanlah perjalanan yang mudah. 

Dimulai dari skala kecil, ia perlahan membangun usahanya dengan mengandalkan ketekunan, keterampilan, dan kepercayaan pasar. Hingga kini, Juju memiliki sekitar 15 unit mesin rajut manual yang digunakan untuk memproduksi berbagai jenis rajutan, mulai dari pakaian hingga produk fesyen lain sesuai permintaan konsumen.

Tak hanya berfokus pada produksi, Juju juga berupaya memberikan dampak ekonomi bagi lingkungan sekitarnya. Ia memberdayakan sejumlah pekerja, baik warga sekitar Binong Jati maupun pekerja yang berasal dari wilayah Kadipaten. Bagi Juju, keberlangsungan usaha bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi juga soal menjaga roda ekonomi kecil agar tetap berputar.

Produk rajutan hasil karyanya sebagian besar dipasarkan ke luar daerah. Selain itu, Juju juga mengikuti perkembangan zaman dengan memanfaatkan penjualan daring, salah satunya melalui sistem live online yang kini banyak digunakan pelaku UMKM untuk menjangkau konsumen lebih luas. Strategi tersebut sempat memberikan hasil yang cukup signifikan, terutama beberapa tahun lalu ketika minat terhadap produk rajut lokal masih cukup tinggi.

Dalam satu pekan, Juju mampu memproduksi sekitar 40 lusin barang rajutan dengan berbagai model dan desain. Produksi tersebut menyesuaikan selera pasar yang terus berubah. Namun, kondisi tersebut kini tidak lagi seideal sebelumnya.

“Harga benang sekarang mahal, sementara penjualan justru semakin menurun dan tidak seperti dulu,” ujar Juju saat ditemui di rumahnya,Senin (12/01/2026).

Menurut Juju, kenaikan harga bahan baku menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi perajin rajut saat ini. Di sisi lain, daya beli masyarakat yang menurun turut mempengaruhi volume penjualan. Kondisi ini membuat margin keuntungan semakin tipis, bahkan tidak jarang hanya cukup untuk menutup biaya operasional dan upah pekerja.

Meski demikian, Juju tidak tinggal diam. Ia terus berupaya melakukan inovasi dengan menghadirkan berbagai model rajutan baru agar tetap diminati pasar. Mulai dari menyesuaikan desain dengan tren fesyen terkini hingga mengikuti permintaan khusus dari pembeli, semua dilakukan demi menjaga eksistensi usaha.

“Kalau tidak terus berinovasi, pasti kalah. Sekarang persaingan bukan hanya dengan perajin lokal, tapi juga dengan produk pabrikan dan barang impor yang harganya kadang lebih murah,” tuturnya.

Juju menyadari bahwa keberlangsungan usaha rajut lokal membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Ia berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih kepada perajin kecil, khususnya dalam hal bantuan permodalan dan akses pemasaran.

“Harapan saya ke depan, usaha ini bisa kembali stabil seperti dulu. Kami bisa jualan ke luar kota lagi dengan lancar, dan pasar di daerah sendiri juga kembali hidup,” ungkapnya penuh harap.

Selain itu, Juju juga membuka peluang kerja sama dan pemesanan bagi masyarakat yang membutuhkan produk rajut dengan berbagai model. Ia berharap kerajinan rajut lokal Binong Jati tetap diminati dan tidak tergerus oleh perubahan zaman.

Kisah Juju menjadi potret nyata perjuangan pelaku UMKM di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih. Ketekunan dan semangat bertahan yang ditunjukkan perajin rajut Binong Jati ini sekaligus menjadi pengingat bahwa industri kreatif lokal masih membutuhkan perhatian serius agar mampu terus tumbuh dan menjadi penopang perekonomian masyarakat. (Agus Sulaeman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *