Ratna, Perempuan Asal Garut yang Terpaksa Bertahan Hidup di Karawang Kejar Target 40 Bungkus Rokok per Hari: Di Mana Kepedulian Pemkab Garut?

Loading

Karawang,TRIBUNPRIBUMI.com – Di balik hiruk pikuk aktivitas ekonomi di Kabupaten Karawang, terselip kisah pilu seorang perempuan bernama Ratna. Perempuan asal Kabupaten Garut, Jawa Barat itu kini harus menetap di Karawang demi satu tujuan sederhana namun berat: bertahan hidup.

Sejak hampir empat bulan terakhir, Ratna bekerja sebagai Sales Promotion Girl (SPG) rokok. Setiap hari ia dituntut menjual 40 bungkus rokok target yang nyaris mustahil tercapai di tengah daya beli masyarakat yang tidak menentu. Namun bagi Ratna, angka itu bukan sekadar target, melainkan syarat agar dapur tetap mengepul.

“Saya kerja dari jam sepuluh pagi sampai sore. Tapi kadang seharian cuma laku lima sampai sepuluh bungkus,” ujar Ratna saat ditemui awak media di sebuah warung kecil, Selasa (06/01/2026).

Dari Garut ke Karawang: Merantau Karena Terpaksa

Ratna bukan merantau karena ambisi atau keinginan memperbaiki nasib semata. Ia meninggalkan Garut karena keterbatasan pilihan pekerjaan yang layak di kampung halaman. Sebelumnya, Ratna sempat bekerja di pabrik dan mengurus rumah tangga. Namun kondisi ekonomi yang terus menekan membuatnya harus mencari alternatif lain.

“Awalnya diajak teman kerja di Karawang. Saya pikir, daripada nganggur, ya dicoba,” katanya.

Keputusan itu mengantarkan Ratna pada dunia kerja dengan tekanan tinggi dan perlindungan minim. Sebagai SPG rokok, ia bekerja bersama dua perempuan lain dalam satu mobil operasional, di bawah pengawasan seorang team leader (TL).

Target Tinggi, Tekanan Psikologis Berat

Sistem kerja berbasis target menjadi sumber tekanan utama. Jika Ratna berhasil menjual 40 bungkus rokok dalam sehari, ia berhak memperoleh fee sekitar Rp250.000. Namun kegagalan mencapai target tetap harus dipertanggungjawabkan.

“Kalau kurang, ya tetap harus nutup. Mau bagaimana lagi,” ucapnya lirih.

Tekanan tersebut bukan hanya berdampak secara ekonomi, tetapi juga psikologis. Setiap hari Ratna harus menghadapi penolakan konsumen, pandangan merendahkan, hingga komentar tidak pantas. Namun semua itu terpaksa ia telan demi menyambung hidup.

Hidup Hemat Demi Anak

Sebagai perantau, Ratna menanggung seluruh kebutuhan hidupnya sendiri. Ia memilih tinggal di kos sederhana dengan biaya sekitar Rp600.000 per bulan. Makan pun dihemat sebisa mungkin.

Ratna adalah seorang janda dengan tanggungan anak. Sebagian penghasilannya harus dikirim ke kampung halaman untuk memenuhi kebutuhan sang anak.

“Yang penting anak bisa makan dan sekolah,” katanya singkat.

Kondisi ini membuat Ratna nyaris tidak memiliki ruang untuk mengeluh. Sakit, lelah, dan tekanan batin sering kali ia pendam sendiri.

Potret Buram Nasib Warga Garut di Perantauan

Kisah Ratna mencerminkan realitas yang dialami banyak warga Garut lainnya. Minimnya lapangan kerja yang layak di daerah asal mendorong masyarakat usia produktif, khususnya perempuan, untuk mencari nafkah ke luar daerah, bahkan ke sektor informal yang rawan eksploitasi.

Pertanyaannya kemudian mengemuka: di mana kepedulian Pemerintah Kabupaten Garut terhadap warganya yang terpaksa bertaruh nasib di luar daerah?

Berbagai program pemberdayaan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja kerap disampaikan dalam forum-forum resmi. Namun fakta di lapangan menunjukkan masih banyak warga Garut yang belum tersentuh manfaat nyata dari kebijakan tersebut.

Negara Hadir atau Sekadar Retorika?

Ratna hanyalah satu wajah dari sekian banyak warga yang terpinggirkan oleh sistem. Di balik pertumbuhan industri dan keuntungan perusahaan, terdapat manusia-manusia yang bekerja tanpa jaminan kepastian dan perlindungan memadai.

“Saya pengen ada yang nafkahin,” ucap Ratna pelan, menutup perbincangan. Kalimat sederhana itu mencerminkan kelelahan fisik dan batin seorang perempuan yang terlalu lama bertahan sendiri.

Kisah Ratna seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah daerah, khususnya Pemkab Garut, untuk tidak sekadar berbicara program dan angka statistik. Perlindungan sosial, penciptaan lapangan kerja lokal, serta pendampingan bagi warga perantauan harus diwujudkan secara konkret.

Tanpa itu semua, kisah Ratna bukanlah yang terakhir. Ia hanya satu dari banyak suara sunyi warga Garut yang terpaksa berjuang jauh dari tanah kelahiran demi hidup, demi anak, dan demi masa depan yang masih samar. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *