![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Di tengah tuntutan pelayanan publik yang semakin tinggi dan sorotan masyarakat terhadap kinerja aparat negara, masih banyak kisah pengabdian anggota kepolisian yang berjalan dalam diam, tanpa pencitraan, tanpa sorotan kamera. Pengabdian itu hadir dalam rutinitas harian, melalui sikap, tutur kata, dan ketulusan dalam melayani. Salah satu potret tersebut tercermin dari sosok Baur SIM Polres Garut, Aiptu Tata Setiawan.
Setiap hari kerja, ruang pelayanan Surat Izin Mengemudi (SIM) Polres Garut dipadati masyarakat dari berbagai latar belakang. Ada yang datang dengan harapan tinggi, ada pula yang membawa keluhan, ketidaktahuan, bahkan emosi akibat proses yang belum dipahami sepenuhnya. Dalam situasi seperti itulah Aiptu Tata Setiawan menjalankan perannya sebagai garda terdepan pelayanan publik.
Sebagai petugas pelayanan SIM, Aiptu Tata Setiawan tidak sekadar menjalankan tugas administratif. Ia memandang pekerjaannya sebagai bagian penting dari tanggung jawab moral dan institusional Polri dalam menjaga keselamatan berlalu lintas serta membangun kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum. Baginya, pelayanan yang baik bukan hanya soal cepat dan tepat, tetapi juga soal sikap, empati, dan kejujuran.
“Bagi saya, tugas ini adalah bentuk pengabdian. Saya hanya berbakti kepada nusa, bangsa, dan negara. Prinsip kerja saya sederhana, yaitu kerja keras, kerja ikhlas, dan kerja cerdas,” ujar Aiptu Tata Setiawan saat di wawancarai awak media melalui sambungan Whatsapp miliknya. Minggu malam, (28/12/2025).
Prinsip tersebut tercermin dalam kesehariannya. Ia dikenal disiplin, teliti, dan bertanggung jawab. Setiap pemohon SIM dilayani dengan pendekatan komunikatif, mulai dari penjelasan alur pelayanan, kelengkapan administrasi, hingga pemahaman tentang aturan dan prosedur yang berlaku.
Sementara itu,bagi masyarakat yang masih awam atau mengalami kendala teknis, Aiptu Tata Setiawan tak segan untuk memberikan pendampingan secara sabar dan persuasif. Tak jarang, dinamika pelayanan menghadirkan tantangan tersendiri. Ada pemohon yang datang dengan ketidaksabaran, bahkan emosi, akibat antrean atau kesalahpahaman terhadap prosedur.
Dalam kondisi tersebut, Aiptu Tata Setiawan memilih pendekatan humanis. Ia mendengar, menjelaskan, dan memberikan pemahaman dengan bahasa yang mudah dipahami, tanpa mengabaikan aturan yang berlaku.
“Polisi harus hadir sebagai pelayan, pelindung, dan pengayom masyarakat. Kalau kita melayani dengan hati, masyarakat akan merasakan sendiri. Pelayanan bukan soal siapa yang dilayani, tetapi bagaimana kita melayani,” tuturnya.
Dalam konteks transformasi Polri menuju institusi yang Presisi Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan peran personel di lini pelayanan publik menjadi sangat strategis. Aiptu Tata Setiawan meyakini bahwa citra dan marwah institusi Polri tidak hanya dibangun dari kebijakan besar atau operasi berskala nasional, melainkan dari hal-hal sederhana yang dilakukan secara konsisten setiap hari di tingkat pelayanan.
Ketepatan waktu, kejujuran, keterbukaan informasi, serta sikap ramah menjadi fondasi utama dalam membangun kepercayaan masyarakat. Ia menilai bahwa satu pelayanan yang dilakukan dengan baik dapat meninggalkan kesan positif yang panjang, sementara satu kesalahan kecil dapat menggerus kepercayaan publik.
Selain kerja keras dan keikhlasan, Aiptu Tata Setiawan juga menekankan pentingnya bekerja secara cerdas. Hal itu diwujudkan dengan memahami regulasi secara menyeluruh, mengikuti perkembangan sistem pelayanan berbasis teknologi, serta terus meningkatkan kapasitas diri agar pelayanan semakin efektif dan efisien. Menurutnya, kerja cerdas akan meminimalkan kesalahan, mempercepat proses, dan memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.
Pengabdian Aiptu Tata Setiawan menunjukkan bahwa dedikasi anggota Polri tidak selalu diwujudkan melalui aksi heroik atau peristiwa dramatis. Justru, pengabdian sejati tumbuh dalam rutinitas yang dijalani dengan penuh tanggung jawab melayani masyarakat satu per satu, menjaga integritas, dan bekerja tanpa pamrih.
Di balik kesibukan pelayanan SIM Polres Garut, Aiptu Tata Setiawan terus meneguhkan komitmennya untuk mengabdi sepenuh hati kepada bangsa dan negara. Pengabdiannya mungkin tak selalu terlihat kamera, tak selalu menjadi tajuk utama berita, namun dampaknya nyata dirasakan oleh masyarakat yang dilayani dengan baik.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di balik seragam cokelat yang dikenakan anggota kepolisian, selalu ada cerita tentang ketulusan, disiplin, dan pengabdian.
Sebuah pengabdian yang mengalir dari hati, dilakukan dengan kerja keras, keikhlasan, dan kecerdasan, demi terwujudnya pelayanan publik yang humanis dan Indonesia yang lebih baik. (DIX)
