![]()
(Oleh: Undang Herman)
Artikel,TRIBUNPRIBUMI.com – Betapa jauhnya jarak antara yang berkuasa dan yang dikuasai.
Bukan sekadar jarak fisik, melainkan jarak rasa, empati, dan kepedulian. Di satu sisi, para penguasa duduk nyaman di singgasana kekuasaan, di balik meja-meja besar, kursi empuk, dan ruangan berpendingin udara. Di sisi lain, kami orang-orang pinggiran bertarung dengan panas matahari, lumpur sawah, dan kerasnya hidup yang tak pernah memberi jeda.
Kami adalah mereka yang tubuhnya penuh daki dan bau keringat, bukan karena malas mandi, tetapi karena bekerja tanpa henti demi menyambung hidup. Pakaian kami rombeng dan bertambal, bukan karena tak ingin rapi, melainkan karena penghasilan tak pernah cukup untuk sekadar mengganti baju. Kami hidup dari tanah, dari cangkul, dari keringat yang jatuh ke bumi, namun justru kerap dipandang sebelah mata.
Sungguh kontras dengan para penguasa yang tampil gagah bersafari atau berjas berdasi. Penampilan rapi, tutur kata manis, dan janji yang terdengar indah. Namun sering kali, keindahan itu hanya berhenti di panggung kampanye, lenyap begitu kekuasaan telah digenggam erat.
Silaturahmi yang Terhalang Tembok Kekuasaan
Wahai para penguasa,
mengapa kini kami seakan dihalangi untuk sekadar bersilaturahmi?
Mengapa pintu-pintu yang dulu terbuka lebar, kini terasa tertutup rapat?
Apakah karena kami dianggap kotor?
Apakah karena kulit kami hitam terbakar matahari, penuh luka dan korengan akibat kerja keras di sawah dan ladang?
Oh… betapa ironisnya.
Padahal dari tangan-tangan inilah pangan negeri ini tumbuh. Dari lumpur yang melekat di kaki petani, beras bisa sampai ke meja makan para pejabat. Namun ketika petani ingin menyampaikan keluh kesah, suara itu kerap dianggap angin lalu bahkan dicurigai, dihindari, atau dipandang sebagai gangguan stabilitas.
Janji yang Dulu Diucap, Kini Terlupa
Wahai para penguasa, apakah kalian lupa, atau sengaja amnesia? Dulu, di hadapan kami, kalian bersumpah setia.
Kalian berjanji akan menghambakan diri demi petani, demi rakyat kecil. Janji itu diucapkan dengan penuh keyakinan, bahkan diikat dengan kesederhanaan: sebatang rokok, semangkuk mi, dan segelas kopi di warung pinggir sawah.
Sementara saat itu, kalian mengaku bagian dari kami anak petani, cucu buruh tani, saudara dari wong cilik.
Namun waktu berjalan, kursi empuk mulai terasa nyaman.
Kekuasaan perlahan mengubah wajah dan sikap.
Petani yang dulu dipeluk, kini dijauhi.
Aspirasi yang dulu didengar, kini diabaikan.
Lebih menyakitkan lagi, ketika petani mulai dianggap sebagai masalah. Kalian menjadi anti, bahkan alergi terhadap suara petani. Setiap kritik dianggap ancaman, setiap jeritan dianggap kebisingan.
Oh… betapa tragisnya ironi ini.
Wakil Rakyat yang Memunggungi Rakyat
Pertanyaannya kini sederhana, namun menyayat:
kepada siapa lagi kami harus bertanya tentang nasib kami?
Kalian adalah wakil rakyat,setidaknya itu yang tertulis di papan nama dan undang-undang.
Namun dalam praktiknya, kalian lebih sering menjadi wakil kepentingan segelintir orang. Rakyat kecil hanya menjadi angka statistik, objek kebijakan, atau sekadar latar belakang pidato.
Petani terus berjuang dengan harga hasil panen yang tak menentu, biaya produksi yang mencekik, pupuk yang langka, dan kebijakan yang tak berpihak.
Sementara itu, suara petani tenggelam di tengah hiruk-pikuk rapat, perjalanan dinas, dan perdebatan elite yang jauh dari realitas sawah dan ladang.
Kami tidak meminta kemewahan.
Kami hanya ingin keadilan.
Kami tidak menuntut istana.
Kami hanya ingin didengar.
Jeritan dari Pinggiran.
Tulisan ini bukan sekadar keluhan.
Ini adalah jeritan sunyi dari pinggiran, dari mereka yang selama ini menjadi tulang punggung negeri namun sering dilupakan. Ini adalah pengingat bahwa kekuasaan sejatinya bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.
Wahai para penguasa,
jika suatu hari kalian lupa dari mana kalian berasal,
ingatlah tanah yang dulu kalian injak,
ingatlah petani yang dulu kalian jabat tangannya,
dan ingatlah janji yang pernah kalian ucapkan meski hanya di warung kecil dengan sebatang rokok dan semangkuk mi.
Karena ketika wakil rakyat memunggungi rakyat,maka yang tersisa hanyalah kekecewaan dan jeritan yang kelak bisa berubah menjadi perlawanan.
