Ketika Kebenaran Harus Berjalan Sendiri

Loading

(Oleh Diki Kusdian)

Artikel,TRIBUNPRIBUMI.com – Orang benar bisa tampak salah saat ia berdiri sendiri, sementara yang keliru bisa terlihat benar karena ramai-ramai. Dunia memang tidak selalu adil, tapi jangan pernah takut memilih jalan yang benar meski harus sendirian.

Ungkapan ini lahir dari realitas kehidupan yang kerap kita jumpai, baik dalam lingkup sosial, pemerintahan, kepemimpinan, maupun kehidupan pribadi. 

Ia menggambarkan sebuah paradoks: kebenaran yang seharusnya dihormati justru sering dikalahkan oleh suara mayoritas, sementara kesalahan yang dilakukan bersama-sama berubah seolah menjadi hal yang wajar, bahkan dibenarkan.

Dalam masyarakat modern, ukuran benar dan salah sering kali bergeser. Bukan lagi berdasarkan nilai, etika, dan nurani, melainkan pada seberapa banyak orang yang menyepakatinya. 

Ketika sebuah pendapat didukung oleh kerumunan, ia dianggap sah. Sebaliknya, ketika sebuah sikap diambil secara sendiri, meski benar, ia dicurigai, dipertanyakan, bahkan diserang. Inilah ironi yang membuat banyak orang akhirnya ragu untuk jujur dan berani.

Berdiri sendiri di atas kebenaran bukan perkara mudah. Dibutuhkan keteguhan hati untuk menghadapi tekanan, cibiran, dan risiko kehilangan kenyamanan. Tidak sedikit orang yang sebenarnya tahu mana yang benar, namun memilih diam atau ikut arus karena takut disingkirkan, takut dianggap berbeda, atau takut kehilangan posisi. 

Pada titik ini, kebenaran sering kalah bukan karena lemah, tetapi karena ditinggalkan.

Fenomena “yang salah terlihat benar karena ramai-ramai” juga menjadi pelajaran pahit dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. 

Kesalahan yang dilakukan secara kolektif sering berubah menjadi budaya. Ketika semua orang melakukannya, maka suara hati menjadi tumpul. Yang menolak dianggap pengganggu, yang mengingatkan dicap pembangkang. Padahal, di situlah letak keberanian moral yang sesungguhnya: berani berkata tidak saat semua orang berkata ya.

Dalam konteks kepemimpinan, pesan ini memiliki makna yang sangat dalam. Seorang pemimpin sejati sering kali harus mengambil keputusan yang tidak populer. Keputusan yang benar tidak selalu disambut tepuk tangan, bahkan sering memicu perlawanan. Namun pemimpin yang hanya mencari aman dan dukungan massa akan mudah mengorbankan prinsip. 

“Sebaliknya, pemimpin yang berani sendirian demi kebenaran sedang menanamkan fondasi kepercayaan jangka panjang”.

Sejarah mencatat bahwa banyak perubahan besar justru dimulai dari segelintir orang, bahkan satu orang, yang berani berbeda. Mereka pernah dianggap salah, dilawan, bahkan dijatuhkan. 

Namun waktu membuktikan bahwa keteguhan pada nilai akhirnya lebih kuat daripada tekanan massa. Kebenaran memang tidak selalu menang cepat, tetapi ia tidak pernah benar-benar kalah.

Dunia memang tidak selalu adil. Ada masa ketika kejujuran dibayar mahal, sementara kepalsuan mendapat panggung. Ada saat di mana orang baik harus menelan kepahitan, sementara yang keliru justru dielu-elukan. Namun ketidakadilan itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk menyerah pada keadaan. Justru di situlah integritas diuji: apakah kita tetap memilih benar, meski tidak diuntungkan?

Memilih jalan yang benar meski harus sendirian bukan berarti merasa paling suci atau paling benar. Itu adalah pilihan sadar untuk setia pada nilai dan tanggung jawab moral. Itu adalah sikap dewasa untuk menerima konsekuensi, tanpa harus mengorbankan nurani. 

“Tidak semua perjuangan harus dilakukan dengan teriakan, kadang ia cukup dijalani dengan konsistensi dan keteladanan”.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak orang yang berada di pihak kita, melainkan seberapa jujur kita pada diri sendiri. Keramaian bisa menipu, popularitas bisa semu, tetapi nurani tidak pernah berbohong. 

“Lebih baik berjalan sendiri di jalan yang lurus daripada beramai-ramai menuju arah yang salah”.

Karena pada satu titik, ketika sorak-sorai telah hilang dan kepentingan telah selesai, yang tersisa hanyalah pertanggungjawaban kepada diri sendiri, kepada masyarakat, dan kepada nilai-nilai kebenaran itu sendiri. Dan bagi mereka yang hari ini memilih setia pada jalan yang benar meski sunyi, percayalah: 

“kesendirian itu bukan kelemahan, melainkan tanda kekuatan yang sesungguhnya”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *