![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Persoalan sampah di Kabupaten Garut masih menjadi tantangan serius yang membutuhkan penanganan komprehensif dan berkelanjutan. Saat di wawancarai awak media diruang kerjanya Rabu, (16/112/2025). Kepala UPT Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasirbajing Kabupaten Garut,Jawa Barat,Iwan Setiawan, SE, menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa hanya bertumpu pada pengolahan di lokasi pembuangan akhir, melainkan harus dimulai dari sumbernya.
Hal tersebut disampaikan Iwan Setiawan saat memaparkan kondisi serta strategi pengelolaan sampah di TPA Pasirbajing, yang hingga kini menjadi salah satu fasilitas vital penanganan sampah di Kabupaten Garut.
Menurutnya, upaya menurunkan volume sampah yang masuk ke TPA tidak akan efektif apabila tidak disertai perubahan pola pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga, desa, hingga kecamatan.
“Pengelolaan sampah harus dimulai dari sumber. Kalau di hulunya tidak ditangani dengan baik, maka di hilir akan terus menumpuk. Karena itu, semua pihak harus bersinergi,” ujar Iwan.
Edukasi Masyarakat Jadi Kunci Utama
Iwan menjelaskan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Garut saat ini terus mendorong berbagai program edukasi dan inovasi pengelolaan sampah di tingkat desa dan kecamatan. Edukasi tersebut meliputi pemilahan sampah sejak dari rumah, pengurangan penggunaan sampah plastik, hingga pemanfaatan sampah organik dan anorganik agar memiliki nilai guna.
Upaya ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap TPA serta memperpanjang usia operasional TPA Pasirbajing yang kini menampung sampah dari berbagai wilayah di Garut.
“Kalau masyarakat sudah terbiasa memilah dan mengelola sampah dari rumah, otomatis beban TPA akan berkurang. Ini sangat penting untuk keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.
Pengendalian Dampak Lingkungan dan Air Lindik
Selain pengelolaan timbunan sampah, UPT TPA Pasirbajing juga memberikan perhatian serius terhadap pengendalian dampak lingkungan, khususnya air lindik atau air hasil rembesan sampah. Air lindik berpotensi mencemari tanah dan aliran sungai apabila tidak dikelola dengan baik.
Iwan menuturkan, pihaknya secara berkala melakukan pengelolaan dan pemantauan air lindik, termasuk pengujian kualitas air tanah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa aktivitas di TPA tidak berdampak negatif terhadap lingkungan sekitar.
“Pengelolaan air lindik ini sangat krusial. Kita tidak ingin keberadaan TPA justru merusak lingkungan dan mencemari sumber air masyarakat,” tegasnya.
Dalam pengelolaan di lapangan, sampah ditata dengan sistem pemadatan dan penutupan secara berkala. Timbunan sampah dikontrol dengan ketinggian tertentu agar tidak menimbulkan gangguan lingkungan, terutama saat musim hujan yang rawan menyebabkan limpasan air dan bau tidak sedap.
Peran Alat Berat dan Keterbatasan Operasional
Iwan juga mengakui bahwa sarana dan prasarana, khususnya alat berat, memiliki peran yang sangat vital dalam mendukung pengelolaan sampah di TPA Pasirbajing. Alat berat digunakan untuk penataan, pemadatan, dan penutupan sampah agar pengelolaan berjalan sesuai standar.
Meski demikian, ia tidak menampik masih adanya keterbatasan dari sisi operasional. Namun, pihaknya tetap berupaya menjalankan tugas dan fungsi secara optimal sesuai kemampuan yang ada.
“Dengan kondisi yang ada, kami tetap berusaha maksimal. Harapannya ke depan ada dukungan lebih untuk peningkatan sarana dan prasarana,” katanya.
Ajak Masyarakat dan Media Ikut Mengawasi
Lebih lanjut, Iwan menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Ia mengajak masyarakat dan media untuk ikut berperan aktif dalam pengawasan sekaligus edukasi lingkungan.
Menurutnya, media memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi yang konstruktif dan membangun kesadaran publik tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup. Sementara masyarakat diharapkan menjadi bagian dari solusi melalui perubahan perilaku dalam mengelola sampah sehari-hari.
“Kami sangat berharap masyarakat dan media bisa ikut mengawasi, memberikan masukan, dan menyampaikan edukasi. Pengelolaan sampah ini butuh kerja sama semua pihak,” ungkapnya.
Menuju Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
Dengan sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan media, Iwan Setiawan optimistis pengelolaan sampah di Kabupaten Garut dapat berjalan lebih baik dan berkelanjutan. Ia menilai, kesadaran kolektif terhadap lingkungan menjadi modal utama untuk menjaga kualitas hidup masyarakat saat ini dan generasi mendatang.
“Lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Kalau kita mulai dari diri sendiri dan dari rumah masing-masing, dampaknya akan sangat besar,” pungkasnya. (*)
