Mengenang Kembali Oplet Garut–Bandung Era 1970-an: Transportasi Legendaris yang Menyimpan Kisah Nyata Gotong Royong dan Kehidupan Bersahaja

Loading

Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Seiring laju modernisasi yang kian cepat, jejak-jejak masa lalu kerap terpinggirkan oleh ingatan kolektif yang memudar. Namun, sebuah rekaman dokumenter lawas kembali menghidupkan kenangan tentang Oplet, moda transportasi legendaris yang pernah menjadi nadi kehidupan masyarakat Garut dan Bandung pada era 1970-an. 

Sementara mungkin ini lebih dari sekadar alat angkut, Oplet menyimpan kisah nyata tentang gotong royong, kebersahajaan, dan kuatnya ikatan sosial warga di masa itu.

Cuplikan video yang beredar luas dan diunggah melalui kanal YouTube Amemoar bagian dari dokumenter Wet Earth Warm People produksi National Film Board menampilkan keseharian masyarakat pedesaan Jawa Barat yang menggantungkan mobilitasnya pada kendaraan berbasis Chevrolet tersebut. Rekaman itu bukan hanya menyajikan gambar bergerak, tetapi juga menghadirkan potret kehidupan yang jujur dan apa adanya.

Oplet sebagai Tulang Punggung Mobilitas Warga

Pada dekade 1970-an, Oplet menjadi transportasi andalan warga desa untuk menjangkau pusat kota. Kendaraan ini menghubungkan wilayah pedalaman Garut dengan Bandung, membawa penumpang sekaligus hasil bumi sayuran, hasil kebun, dan berbagai dagangan kecil yang hendak dijual di pasar kota.

Dalam video tersebut, terlihat Oplet dipenuhi penumpang yang duduk berhimpitan, sebagian berdiri, namun tetap tampak akrab. Canda, obrolan ringan, dan senyum mengiringi perjalanan panjang yang harus ditempuh hingga puluhan kilometer. Keterbatasan ruang dan kenyamanan tak menjadi soal; yang utama adalah bisa sampai tujuan bersama-sama.

Seorang narasumber dalam dokumenter itu menyebutkan bahwa warga desa kerap menempuh perjalanan sekitar 40 kilometer demi menjual hasil dagangannya. Oplet pun berperan penting sebagai penggerak ekonomi rakyat kecil, menjadi penghubung antara desa dan kota.

Jalanan Lengang dan Wajah Pedesaan Sunda

Rekaman lawas tersebut juga memperlihatkan kondisi jalanan yang jauh berbeda dengan saat ini. Lalu lintas masih lengang, beberapa ruas jalan belum sepenuhnya beraspal mulus, dan delman masih menjadi pemandangan lazim. Hamparan sawah, perkampungan sederhana, serta alam pedesaan Tatar Sunda menjadi latar perjalanan Oplet yang perlahan menyusuri rute Garut–Bandung.

Suasana ini menghadirkan kontras tajam dengan kondisi sekarang, ketika jalan raya dipenuhi kendaraan bermotor dan kemacetan menjadi pemandangan sehari-hari.

Mogok di Tanjakan, Gotong Royong Jadi Solusi

Salah satu adegan paling berkesan dalam dokumenter tersebut terjadi saat Oplet mengalami mogok di tanjakan terjal. Mesin kendaraan yang sudah uzur tak sanggup menahan beban penumpang. Tanpa diminta, hampir seluruh penumpang turun dan bersama-sama mendorong Oplet agar bisa kembali berjalan.

Sopir dan asistennya yang masih berusia belia terlihat membuka kap mesin, memeriksa karburator, dan mengganjal roda dengan batu besar agar kendaraan tidak meluncur mundur. Tak ada keluhan atau amarah. Yang tampak justru kebersamaan dan kesadaran kolektif untuk saling membantu.

Adegan ini menjadi gambaran nyata nilai gotong royong yang begitu melekat dalam kehidupan masyarakat masa lalu sebuah nilai yang kini dirasakan semakin langka.

Dikerumuni Pedagang, Denyut Ekonomi Rakyat

Ketika Oplet berhenti di titik-titik tertentu, suasana mendadak ramai. Para pedagang kaki lima berlarian menghampiri kendaraan, menawarkan dagangan melalui jendela. Kacang rebus, lepet, gorengan, hingga jajanan tradisional lainnya berpindah tangan dalam interaksi singkat namun hangat.

Setelah transaksi selesai, para pedagang kembali melanjutkan aktivitasnya. Oplet pun dinyalakan kembali dengan cara diengkol, yakni memutar engkol besi di bagian depan kendaraan hingga mesin hidup. Cara menyalakan mesin ini kini hampir tak dikenal generasi muda, namun dulu merupakan pemandangan biasa di jalanan.

Nostalgia yang Menggugah Ingatan

Video dokumenter tersebut memantik gelombang nostalgia di kalangan warganet. Kolom komentar dipenuhi cerita pribadi dari mereka yang pernah merasakan langsung naik Oplet di masa kecil, menempuh perjalanan dari kampung ke kota, atau sekadar mengingat suasana hidup yang lebih tenang dan bersahaja.

Banyak yang mengapresiasi dokumentasi tersebut sebagai arsip sejarah berharga. Tidak sedikit pula yang mengaku terharu melihat wajah-wajah lugu masyarakat tempo dulu, serta kehidupan yang meski serba terbatas, namun terasa damai dan penuh kebersamaan.

Warisan Nilai dari Sebuah Transportasi

Kini, Oplet mungkin telah lama hilang dari jalanan Garut dan Bandung, tergantikan oleh angkutan modern yang lebih cepat dan nyaman. Namun, nilai-nilai yang pernah hidup di dalamnya kebersamaan, solidaritas, dan gotong royong tetap relevan hingga hari ini.

Mengenang Oplet bukan sekadar bernostalgia tentang kendaraan tua, melainkan juga mengingat kembali jati diri masyarakat yang pernah menjadikan kebersamaan sebagai kekuatan utama dalam menghadapi keterbatasan. Sebuah pelajaran berharga dari masa lalu, yang layak dirawat di tengah arus perubahan zaman. (DIX)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *