![]()
Garut,TRIBUNPRIBUMI.com – Di tengah berbagai persoalan sampah yang masih menjadi pekerjaan rumah banyak desa di Kabupaten Garut, muncul sosok pemimpin tingkat kampung yang memberikan teladan kuat tentang bagaimana perubahan bisa dimulai dari komunitas kecil. Ia adalah Oi Sudarsono, Ketua RW 02 Kampung Panunggangan, Desa Sukabakti, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat yang kini dikenal sebagai pahlawan lingkungan di wilayahnya.
Dengan komitmen yang tidak pernah surut, Oi Sudarsono telah bertahun-tahun mengabdikan diri untuk membangun budaya peduli kebersihan melalui edukasi, fasilitas buatan sendiri, serta gotong royong warga yang berjalan konsisten.
Edukasi dari Rumah ke Rumah: Menanamkan Kesadaran Sejak Awal
Ketika pertama kali melihat tumpukan sampah yang kerap mengotori sudut-sudut kampung, Oi Sudarsono menyadari bahwa persoalan tersebut bukan hanya soal fasilitas yang kurang, tetapi juga soal kebiasaan dan pola pikir warga.
Karena itu, langkah awal yang dilakukan adalah memberikan edukasi langsung kepada masyarakat.
Mulai dari obrolan santai, pertemuan RT/RW, hingga kegiatan rutin kampung, Oi dengan sabar menyampaikan pentingnya menjaga lingkungan:
sampah harus dibuang pada tempatnya,
tidak dibakar sembarangan,
tidak dibuang ke kebun kosong atau selokan,
keberlangsungan lingkungan memengaruhi kesehatan keluarga.
Pendekatan yang humanis dan tanpa menyalahkan membuat warga mulai menerima pesan tersebut. Perlahan, kesadaran kolektif pun tumbuh.
Membangun Bak Sampah Mandiri: Ketika Keterbatasan Tidak Menjadi Alasan
Menyadari tidak ada tempat pembuangan sementara (TPS) yang dekat dengan permukiman warga, Oi menggunakan cara sederhana tetapi efektif: membangun bak sampah secara mandiri bersama masyarakat.
Prosesnya dilakukan dengan swadaya:
warga menyumbang semen, batako, atau biaya sekadarnya;
sebagian lainnya membantu tenaga untuk pembangunan;
titik penempatan bak sampah dipilih berdasarkan pertimbangan akses dan kedekatan rumah-rumah warga.
Walau tampak sederhana, bak sampah mandiri ini menjadi fasilitas vital yang sangat membantu mengurangi sampah berserakan di jalan atau kebun sekitar kampung.
Inisiatif tersebut juga mematahkan anggapan bahwa menunggu bantuan pemerintah adalah satu-satunya solusi. Oi membuktikan bahwa inisiatif lokal bisa menghasilkan dampak besar.
Iuran Gotong Royong untuk Angkutan Sampah: Gerakan yang Dijalankan Konsisten
Tantangan berikutnya muncul saat jumlah sampah mulai tertampung, tetapi biaya untuk mengangkutnya secara rutin ke tempat pembuangan resmi tidak tersedia. Lagi-lagi, Oi mencari solusi tanpa banyak keluhan.
Ia kemudian menggagas iuran masyarakat secara gotong royong. Setiap keluarga menyumbang sesuai kemampuan, dan biaya tersebut digunakan untuk:
membayar jasa pengangkut sampah,
membeli kantong atau perlengkapan kebersihan,
memperbaiki bak sampah jika rusak.
Uniknya, tidak ada paksaan dalam iuran tersebut. Warga justru dengan sadar berpartisipasi karena merasakan manfaat langsung dari lingkungan yang lebih bersih.
Oi juga sering turun langsung mendampingi proses pengangkutan sampah, memastikan bak tidak overload dan kebersihan tetap terjaga.
Dampak Nyata: Lingkungan Lebih Tertata, Kesadaran Warga Meningkat
Upaya yang ditempuh Oi Sudarsono tidak sia-sia. Kini RW 02 Kampung Panunggangan dikenal sebagai salah satu wilayah yang semakin bersih, rapi, dan terjaga kebersihannya. Jalan kampung tidak lagi dipenuhi sampah, drainase lebih lancar, dan bau tidak sedap kian jarang muncul.
Warga pun mulai memahami bahwa kebersihan bukan hanya urusan pemerintah desa ataupun petugas kebersihan, melainkan tanggung jawab bersama yang harus dijaga setiap hari.
Tidak sedikit RW di wilayah tetangga yang kemudian melakukan studi kecil atau bertanya langsung kepada Oi tentang cara mengelola sampah berbasis partisipasi warga.
Keteladanan yang Layak Dicontoh
Dedikasi Oi Sudarsono menjadi bukti bahwa figur pemimpin lokal memiliki peran strategis dalam membentuk perilaku masyarakat. Tanpa sorotan kamera atau gelar populer, ia bekerja dalam diam namun membawa dampak besar.
Langkah-langkah kecilnya mulai dari edukasi, pembangunan fasilitas swadaya, hingga pengelolaan sampah mandiri telah mengubah wajah lingkungan Kampung Panunggangan menjadi lebih baik.
Dengan komitmen yang kuat dan kerja kolektif masyarakat, RW 02 kini menjadi contoh bahwa gerakan kebersihan dapat dimulai dari skala kecil namun memberikan perubahan besar.
Oi Sudarsono pun berharap, budaya gotong royong dalam menjaga lingkungan bisa terus dipertahankan dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Kabupaten Garut dan Jawa Barat. (DIX)
